Cinta Ditolak, TB Bertindak


oleh Aulia Firdiana – Media
Layouter : Amalia Putri Ocean – Artistik & Online
Editor : Redaksi

Semenjak kuliah di bidang medis, banyak hal berubah dalam hidup penulis. Jujur saja, sejak kenal penyakit ini itu, bawaannya jadi parno. Motoran bentar tanpa menggunakan masker, rasanya seperti sudah menghirup satu kilogram debu. Salaman sama orang yang tidak dikenal, langsung mikir,

“Dia udah cuci tangan belum ya?”

Saat berpapasan dengan orang yang batuk-batuk dan tidak ditutup, seketika menunduk agar batuknya nggak nyembur ke muka, sambil sambat dalam hati tentunya.

Jika bertemu dengan pasien-pasien kasus tertentu langsung,

“woaaah, sumpah? Nggak nyangka deh. Harus super protektif nih”.
            Kasian, ya.

            Takut ketularan.                                                           

            Aku nggak mau kayak gitu.

           Aku nggak mau deket-deket sama dia,

            Tanpa disadari, penulis menumbuhkan stigma dalam diri sendiri. Padahal, seseorang yang bekerja di bidang medis sangat tidak bijak bila bersikap seperti itu. Ya, proteksi diri harus selalu dilakukan, bahkan wajib hukumnya. Tapi tidak dengan mengembangbiakkan negative thinking dan menghindari orangnya. Sebenarnya, stigma terhadap penyakit tumbuh subur di masyarakat. Bahkan bagaikan menebar benih terutama di kalangan masyarakat dengan pendidikan rendah.

Salah satu stigma yang menjamur terhadap penyakit adalah stigma penyakit TB (Tuberculosis). Bagi sebagian orang, TB adalah penyakit yang sangat mengerikan. Penulis tidak menyalahkan pernyataan tersebut, sih, melihat begitu mudahnya TB masuk ke dalam tubuh manusia. TB dianggap sebagai penyakit turunan, bahkan kutukan dan guna-guna. Padahal TB ialah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, bukan guna-guna kiriman dukun desa sebelah karena ada yang cintanya ditolak, bukan.

Orang-orang yang mengidap penyakit yang menular (tidak hanya TB), kerap kali dijauhi, dikucilkan, dicemooh, dan tindakan tidak mengenakkan lainnya. Hal ini berpengaruh kepada  penderita. Penderita merasa, hidup kok gini-gini amat ya Gusti, habis nolak dia, eh kok aku ditolakkin masyarakat? Muncul rasa rendah diri pada penderita, takut dikeluarkan dari lingkungan masyarakat, takut dipecat, dan ketakutan lainnya. Ada juga yang sampai menutupi penyakitnya, karena, apa kata dunia kalau tahu dia seorang pengidap TB? Tentu saja stigma dari masyarakat dan diri sendiri terhadap penyakitnya menjadikan proses penyembuhan memakan waktu yang lama, bahkan lambat laun menyita umur penderitanya.

Saat ini, TB masuk ke dalam sepuluh besar penyakit penyabab kematian terbanyak di dunia. Tidak ada satupun di dunia ini negara yang bebas TB. Semangat Indonesia, you’ll never walk alone! Bukan prestasi yang patut diberikan medali sih, karena kabar buruknya, dari seluruh benua di dunia ini, 45% kasus TB dikuasai oleh Asia Tenggara. Indonesia diestimasikan menerima 842.000 kasus TB baru setiap tahunnya. Tahun 2017 pun telah mencetak 110.000 kasus TB yang berujung pada kematian. Sumber: Infodatin, Kementerian Kesehatan RI, 2018

Stigma sudah seperti lingkaran setan yang sulit untuk diputus—bukan lingkaran setan yang ada api-apinya itu. Padahal, semakin susah diputus, penemuan kasus TB di Indonesia tidak akan stuck di 842.000, tapi jauh melesat lebih tinggi dari sekian angka itu. Perasaan takut dan malu menyembunyikan angka-angka tersebut. Tenggelam dalam palung akibat gosip-gosip tetangga dan lambe saudara jauh.

Sebenarnya, penulis sendiri bingung mengapa rasa malu menguasai penderita (selain dari perasaan takut diperlakukan buruk oleh masyarakat). Maksudnya bukan ingin membangga-banggakan penderita TB juga, sih, tapi lebih ke kenapa gitu lho? Menurut penulis, penderita TB itu hanya apes saja. Sama seperti beberapa penyakit lainnya, tidak terhitung penyakit menular seksual, TB karena HIV/AIDS dengan sebab yang sama, dan penyakit karena keteledoran manusianya ya (misalnya hepatitis karena suka kobam). Siapapun bisa saja terkena TB, pneumonia, atau bahkan influenza sekalipun. Perbedaannya hanya pada saat keapesan itu terjadi, imunitas penderita tidak sanggup melawan bakteri yang masuk. But dude, at least, they don’t get it from the wrong way, right?  Bukan dari cara-cara yang salah yang melanggar aturan Tuhan dan norma masyarakat. So, who are you judging them?

Bahkan lebih dari itu, penulis merasa orang-orang dengan penyakitnya justru disayang oleh Tuhan. Tuhan tidak serta merta memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya ‘kan? Malahan tidak bisa dibilang apes juga, karena di balik rasa sakitnya, orang-orang tersebut diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertaubat serta dihapuskan dosa-dosanya. Orang dengan TB tidak sehina itu sampai-sampai harus dikucilkan. Pengidap TB perlu disayang dan dirangkul, diberitahu apabila benar dan dikoreksi apabila salah.

Ada beberapa garis besar yang perlu diketahui oleh masyarakat agar stigma TB dapat dihilangkan

  1. TB disebarkan melalui udara (co: percikan dahak penderita), bukan keringatnya. Oleh karena itu pemakaian masker menjadi sangat penting.
  2. Walaupun hanya sedikit percikan, bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis itu sangat kecil dan infeksius lho, sehingga orang yang terpapar dengan TB bisa mudah tertular.
  3. Sebagian besar pasien TB berada di usia produktif.
  4. TB tidak selalu dalam sekejap menghasilkan manifestasi klinis, bisa saja bakteri TB tidak menjadi aktif (dorman), tetapi saat imun tubuh sedang turun, kemungkinan TB menjadi sangat tinggi.
  5. TB dapat disembuhkan apabila penderita meminum obat sesuai standar 6-8 bulan secara teratur.

Nah, jika masyarakat sudah paham tentang TB, sekarang giliran penderita yang perlu diedukasi. Jika ada pengidap TB yang membaca tulisan ini, pernah mengidap TB, atau mungkin sekadar influenza biasa, yang harus dipatri di dalam sanubari ialah, jangan lupa ditutup, ya, kalau batuk. Ya kali ah, kirim hujan di mana-mana. Kamu bisa kok tetap menyayangi si dia walaupun cinta sudah ditolak dengan cara melakukan pencegahan-pencegahan, seperti:

  1. Menjaga etika batuk
  2. Menjaga kebersihan dan kesehatan pribadi, sesadar mungkin untuk tidak mencampurkan barang pribadi dengan barang orang di sekitar.
  3. Menerapkan standar rumah sehat. (Kalau ngekos jendelanya jangan lupa dibuka ya)
  4. Keep healthy, gan! Jaga badan supaya nggak drop.
  5. Jangan lupa minum obat yang sudah diresepkan dokter. Nggak mau si dia sakit juga kan?

Ada banyak cara pencegahan untuk memutus rantai TB. Tidak perlu kirim guna-guna lewat dukun desa karena si dia menolak cinta. Sumpah ya, mending ditolak tapi masih bisa deket loh, daripada udah ditolak terus cuma bisa lihat dari jauh. Makanya supaya nggak terlihat mengenaskan, just be brave! Jangan takut bicara pada ahlinya. Kalau ragu, mungkin bisa dimulai dari orang tua atau saudara kandung. Buang risaumu, 42% kasus TB berhasil sembuh jika mau menerapkan pola perilaku yang baik dan benar. You can do it!

Kesembuhan itu dari Tuhan, manusia yang berusaha. Memang, TB itu sangat menular dan bisa berkembang di luar kendali manusia. Tidak sedikit kasus TB yang berkembang menjadi TB yang resisten terhadap obat standarnya. Tetapi keajaiban itu selalu ada, terutama bagi orang-orang yang berusaha. Salah satunya Alfiyah, gadis penyandang down syndrome dengan TB resisten obat. keajaiban membantu usaha orangtuanya. Kasih sayang dan dorongan yang mengalir dari orang-orang terdekat membakar semangatnya untuk sembuh. Seharusnya, hal itulah yang terjadi dalam masyarakat. Rangkul penderita, alamatkan kasih dan sayang kepadanya, agar ketakutan dan perasaan ingin menutup-nutupi penyakitnya hilang. Ajak penderita untuk becerita dan menemui ahlinya. TB harus sesegera mungkin ditemukan agar proses penyembuhannya tepat sasaran dan tidak menulari orang lain.

Hari Tuberkulosis Sedunia jatuh pada tanggal 24 Maret. Terhitung tahun ini, Indonesia masih mempunyai sebelas tahun untuk mencapai Indonesia Bebas TB pada tahun 2030 nanti. Apakah ini tugas besar? Tentu saja, sangat besar malahan. Tetapi kita dapat membantu negara kita dalam membebaskan Indonesia dari TB hanya dengan tidak menelan hoaks dan memahami informasi yang benar mengenai TB. Jika kita telah mengetahui informasi yang valid, seharusnya stigma terhadap TB dan segala bentuk tindakan yang tidak mengenakkan kepada orang dengan TB sudah hilang ditelan bumi.

Sesuai dengan tema Hari Tuberkulosis Sedunia tahun ini, “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya”.

Jika tidak dimulai dari kita, lalu siapa lagi? #TOSSTBMulaidariSaya #IndonesiaBebasTB2030

Sumber tulisan dan gambar:

You May Also Like

Diskusi Kedua Paslon dengan Organisasi Kesehatan dalam Pagelaran Walnya

#DedikasiBPN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *